Mari Satukan Cinta UntuK Balita Indonesia

Pesantren Ramadhan Untuk Anak Usia Dini By : Dinda Bookmark and Share

Selama bulan ramadhan ini ternyata banyak mesjid yang membuka pesantren kilat ramadhan untuk anak balita. Sebuah kegiatan yang pastinya sangat bermanfaat bagi anak-anak selama mengisi bulan ramadhan ini.Diajarin apa aja sih mereka?

Wah ternyata seru loh. Di sana anak-anak usia dini itu dikenalkan kepada istilah-istilah yang berhubungan dengan puasa. Seperti membaca doa atau niat waktu sahur dan membaca doa waktu berbuka. Mereka juga diajarkan sholat tarawih, witir, mendengarkan kotbah. Terus mereka juga diajarkan sholat Idul Fitri juga membayar zakat fitrah. Bahkan untuk membayar zakat mereka bisa berpartisipasi langsung.Untuk anak yang usia lebih kecil gak harus puasa penuh. Siang hari mereka boleh berbuka dan setelah berbuka mereka boleh melanjutkan puasa lagi sampai maghrib.Pembelajaran sejak dini tentang puasa diharapkan bisa memberikan manfaat bagi perkembangan akhlak mereka dikemudian hari. Paling tidak, anak-anak selalu senang menanti datangnya bulan puasa.

Baca lebih lanjut...

Belajar sambil bermain… by:jigmegovinda Bookmark and Share

Ingatkah kita bagaimana perasaan kita waktu kecil ketika bermain? Betapa bergairahnya waktu kita menemukan sesuatu. Bersemangat untuk belajar mengenali bentuk, warna, suara sambil bermain. Begitulah bermain bagi anak dapat membuka pintu pembelajaran. Dan pembelajaran lewat permainan itu tidak perlu rumit. Bisa saja dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita.

Untuk itu luangkan waktu sejenak misalnya setiap akhir minggu dengan bermain bersama anak. Ajarkan anak-anak untuk menyentuh beragam obyek di sekitarnya; misalnya merasakan teksturnya; air, plester semen, kayu, plastik, kaca, kertas, kain, kulit, rambut. Atau mendengarkan suara; tawa, percakapan, musik, lalu lintas, pesawat di angkasa, dan kicauan burung. Dan jangan lupa ajarkan juga bebauan. Seperti menghirup aroma masakan berbumbu, mengendus setangkai bunga, menghirup aroma rumput yang baru dipotong, tanah yang habis disiram hujan. Dari situ anak secara langsung akan belajar tentang alam bahkan spiritual yang mendasar dan sederhana. Anak akan sangat senang dengan setiap penemuan dan dari situ ia akan bisa menyerap pengetahuan secara langsung.Waktu bermain adalah satu area yang paling memberikan rasa senang, relaksasi, hiburan dan merupakan sosialisasi pendidikan untuk semua orang. Selama bermain, kita juga bisa membantu si kecil membayangkan dunia baru secara keseluruhan. Sepanjang hidupnya, segala aktivitas seperti itu akan merangsang kreativitasnya, selera humornya, rasa keseimbangan dan proporsinya, rasa ingin tahunya, logikanya, perkembangan sosialnya dan masih banyak lagi. Yuk.. sediakan waktu tiap akhir minggu untuk bermain dengan anak-anak kita????

Baca lebih lanjut...

Hemat Membawa Rahmat di Bulan Penuh Berkah Bookmark and Share

Berhemat bukan berarti menutupi kesempatan berbagi pada sesama yang membutuhkan, terutama mereka para balita yang kesulitan mendapatkan pendidikan usia dini (PAUD). Cara paling mudah untuk membantu mereka adalah dengan cara berbelanja.

Jangan kaget dengan ide belanja demi berbagi. Berbelanja mungkin identik dengan buang-buang uang bahkan perilaku hedonis. Namun, tidak demikian bila turut berpartisipasi dalam Saving Bring Blessings (Hemat Membawa Rahmat). Dalam program yang berlangsung selama Ramadhan, setiap pembelian produk P&G berharga spesial akan didonasikan untuk kegiatan Balita Cerdas.

Balita Cerdas adalah salah satu bentuk kepedulian P&G terhadap balita di Indonesia yang masih sulit mengakses PAUD (0-6 th). Hal ini sangat disayangkan, mengingat masa keemasan (golden age) adalah masa paling penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Pada periode ini, seorang anak akan menyerap banyak pengetahuan baru sebagai bekal untuk pendidikan jenjang yang berikutnya. Sangat disayangkan bila latar belakang ekonomi dan kurangnya fasilitas membuat balita Indonesia kehilangan kesempatan untuk memperoleh stimulasi yang baik bagi proses tumbuh kembang mereka.

2 tahun sudah program ini berjalan di Sukabumi dengan dukungan penuh dari berbagai pihak mulai dari pemerintah setempat, tokoh masyarakat setempat, serta bintang iklan produk P&G, dan tokoh yang peduli pada anak, seperti: Soraya Haque, Purwatjaraka (composer), Shahnaz Haque, Ira Wibowo, Nirina Zubir, Annisa Pohan, dan Susan bachtiar.

Di bulan penuh berkah ini marilah kita bersama-sama menyelamatkan masa depan pendidikan balita dengan cara paling mudah yang rutin kita lakukan setiap bulannya, yaitu dengan berbelanja. Saving Bring Blessings (Hemat Membawa Rahmat), sembari membawa sekeranjang belanjaan, ternyata kita bisa membawa rahmat bagi balita Indonesia, bagi pendidikannya, bagi masa depannya, bagi kemajuan bangsa Indonesia.

P&G dan Balita Cerdas mengucapkan selamat berpuasa

Baca lebih lanjut...

Jadilah Pahlawan Bagi Mereka Bookmark and Share

"Merdeka!" Pekik kemenangan dikumandangkan ke penjuru negeri saat Bung Karno selesai membacakan Proklamasi Kemenangan Indonesia. 64 tahun berlalu sejak para pahlawan berjuang demi masa depan rakyat Indonesia. Namun saat ini, di sana-sini masih ada rakyat Indonesia yang masa depannya tertutup kabut tebal.

Ana kecil, Andi kecil, dan ribuan bahkan ratusan ribu Ana dan Andi kecil lainnya di seluruh penjuru bumi nusantara ini masih belum seberuntung anak-anak lainnya yang mampu mengenyam pendidikan usia dini (0-6 th). Latar belakang ekonomi maupun ketiadaan fasilitas menjadi halangan bagi mereka untuk memanfaatkan masa keemasan (golden age) yang penting bagi pertumbuhan mereka ke depannya. Pada masa itulah, seorang anak mampu menyerap pengetahuan lebih banyak daripada orang dewasa.

Karena pentingnya peran pendidikan usia dini (PAUD), program ini harus terus disosialisasikan dari sabang sampai merauke, dari kota sampai pelosok desa. Salah satu sosialisasi yang terbilang sukses adalah program Balita Cerdas yang saat ini menjangkau beberapa desa di pedalaman Sukabumi atas dukungan P&G. Di Desa Benda, Kecamatan Cicurug - Sukabumi. Tanpa dipungut biaya, setiap paginya anak-anak balita berlatih menyanyi, menari, menggambar, dan mewarnai serta cara hidup sehat di Taman Posyandu.

Berpusat di 10 desa di Sukabumi, dalam kurun waktu 2 tahun, lebih dari 1000 balita telah menjadi murid di 10 PAUD. Program ini berlangsung dengan baik karena kerjasama yang solid mulai dari pemerintah setempat, tokoh masyarakat setempat, serta bintang iklan produk P&G, dan tokoh yang peduli pada anak, seperti: Soraya Haque, Purwatjaraka (composer), Shahnaz Haque, Ira Wibowo, Nirina Zubir, Annisa Pohan, Susan bachtiar.

Ana dan Andi kecil lainnya membutuhkan pahlawan. Bukan pahlawan yang mengusung senjata api, tapi pahlawan dengan hati untuk membantu menyapu kabut tebal dan memberikan sinar harapan bagi masa depan mereka. Kita semua bisa menjadi pahlawan dengan turut menyukseskan program PAUD bagi mereka, masa depan bangsa Indonesia.

Merdeka!
Mari satukan cinta untuk Balita Indonesia.

Baca lebih lanjut...

Balita Cerdas di Desa Benda, Sukabumi Bookmark and Share

Baca lebih lanjut...

1.000 Balita Bisa Tersenyum Kembali... Bookmark and Share

Tawa anak-anak selalu membawa keriangan sampai ke dalam hati. Matanya bening. Binarnya indah menyapu letih. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat anak kecil berceloteh riang dan tertawa bahagia.

Di mana pun anak-anak balita punya tingkah laku yang sama, selalu memberikan respons yang asertif, lucu , menantang, dan punya sifat ingin tahu. Anak balita juga suka menyanyi, energik, banyak mengoceh, suka mengamati, dan tidak pernah terduga.

Karena pada saat itu, anak-anak menampung semua yang berada di sekeliling mereka. Semua yang ada dalam lingkungan mereka ditangkap melalui panca indera. Pada saat itu mereka memiliki kemampuan penangkapan yang jauh lebih besar daripada orang dewasa.

Karena itu, di usia balita ini anak perlu mendapat arahan yang tepat. Stimulus yang tepat dan variatif agar potensi mereka bisa berkembang maksimal. Stimulus pada anak memang bisa dilakukan sendiri oleh orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Namun banyak ahli psikologi perkembangan anak yang menilai stimulus dari orang tua dan keluarga tidaklah cukup untuk mengoptimalkan kecerdasan seorang anak. Lingkungan terutama lingkungan sebaya dengan anak justru amat dibutuhkan.

Di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) anak diberikan peluang agar mereka bisa mendapatkan stimulus lebih variatif. Di PAUD, anak tidak hanya belajar hal-hal yang persona seperti kemampuan mengekspresikan diri, ketrampilan motorik, tetapi juga belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya dengan gurunya dan orang-orang yang terlibat dalam PAUD. Ini yang membuat anak akan mendapatkan stimulus yang lebih variatif dan beragam.

Sayangnya, belum semua orangtua menyadari pentingnya pendidikan untuk anak di usia dini. Hingga akhir 2008, Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD baru sekitar 50,03 persen dari 29,8 juta anak*. Dengan demikian, hampir separuh dari jumlah anak usia dini yang ada di negeri ini belum memperoleh layanan pendidikan.

Padahal bila layanan PAUD lebih merata dan bermutu bisa direalisasikan, anak-anak itu akan tumbuh menjadi sumber daya yang amat berharga dalam membangun bangsa ini di masa depan.

P&G merasa terpanggil untuk membantu anak-anak balita Indonesia mendapatkan layanan PAUD yang layak dengan mengadakan program sosial Balita Cerdas.

Dan selama bulan ramadhan P&G akan mengadakan program sosial berskala nasional yaitu "Hemat membawa Rakhmat" Balita Cerdas. Program ini bertujuan mengumpulkan donasi melalui pembelian produk-produk P&G melalui harga special untuk membantu pendidikan anak-anak usia dini. Jadi selain kita bisa mendapatkan produk bermutu dengan harga special, kita juga langsung bisa beramal.

Sekarang maukah kita berbagi dengan mengulurkan tangan untuk membantu anak-anak balita mendapatakan PAUD , demi sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan?

Ayo dukung balita Indonesia!

* Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Direktorat Jenderal Pendidikan Formal dan Informal (PNFI), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)

Baca lebih lanjut...

Satu Tahun Seribu Balita Cerdas Bookmark and Share

Senang campur haru melihat anak-anak usia balita satu demi satu berjalan melewati jalan sempit yang curam untuk sampai ke sekolah. Sekolah mereka kini sudah berdiri tegak dan layak. Kedatangan mereka disambut oleh guru yang tidak bukan adalah kader atau tenaga pengajar sukarela yang telah qualified, karena mereka telah diberikan pelatihan melalui program yang dilakukan Dinas Pendidikan Pemda Sukabumi dan Unicef, termasuk pelatihan Pelatih Ahli PAUD.

Pemerintah saat ini memang sedang menggalakkan upaya peningkatan layanan PAUD agar lebih merata serta lebih berkualitas. Berdasarkan data Depdiknas bahwa lebih dari 20 juta Balita Indonesia tidak memiliki kesempatan mengenyam PAUD. Padahal pendidikan adalah dasar utama yang penting dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Inilah modal yang dibutuhkan anak bangsa untuk bertahan di tengah persaingan global dan maju untuk memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara.

Karena itulah P&G sebagai salah satu perusahaan produk konsumen terbesar di dunia, memilih untuk memusatkan perhatian kegiatan layanan masyarakatnya kepada anak-anak dengan usia di bawah 13 tahun melalui Tema Global LLT – Live, Learn, and Thrive.

Terpanggil dengan tingginya jumlah anak yang belum mendapat layanan pendidikan, P&G bekerjasama dengan Unicef mengadakan program sosial bernama Balita Cerdas yang dikhususkan untuk membantu balita di Indonesia mendapatkan pendidikan usia dini yang layak.

Program yang telah berjalan 2 tahun ini dipusatkan di 10 desa di Sukabumi. Saat ini lebih dari 1000 balita telah menjadi murid di 10 PAUD tersebut. Mereka belajar gratis. Program Balita Cerdas di Sukabumi telah berjalan dengan baik Karena dukungan dari pemerintah setempat, para bintang iklan produk P&G serta tokoh yang sangat perhatian terhadap perkembangan anak, antara lain: Soraya Haque, Purwatjaraka (composer), Shannaz Haque, Ira Wibowo, Nirina Zubir, Annisa Pohan, Susan Bachtiar. Juga peran tokoh masyarakat setempat seperti Kepala Desa dan Bu Kades selaku penggerak PKK yang merupakan kunci utama suksesnya program ini. Bahkan P&G telah membangun 4 pusat kegiatan masyarakat dengan nilai lebih dari 1 milyar rupiah untuk digunakan sebagai fasilitas PAUD serta kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Ke depannya P&G berencana akan memperluas program percontohannya ke daerah lain. Selanjutnya diharapkan melalui kampanye "Satu Tahun Seribu Balita Cerdas", P&G Balita Cerdas akan terus berkembang . Mulai hari ini kita juga bisa ikut berpartisipasi membantu untuk pendidikan anak balita dengan membeli produk-produk P&G berlabel "Hemat Membawa Rakhmat".

Ayo dukung balita Indonesia untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah!

Baca lebih lanjut...

Setetes Shampoo Untuk Dukung Balita Bookmark and Share

Aminah (3th) asyik berlarian di tengah keramaian pasar, sementara pagi itu ibunya sibuk melayani pembeli bunga tabur di pasar yang kumuh dan becek. Di lain tempat tampak Bondan (3,5 th) meraung-raung sambil menangis terus.membuntuti ayahnya yang pagi itu akan pergi melaut. Aminah dan Bondan adalah salah contoh kecil yang sehari-hari bermain tak terarah, orang tua mereka tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan mereka.

Mereka hanyalah contoh kecil padahal masih banyak anak-anak di daerah lainnya yang belum terjangkau oleh pentingnya pendidikan pra-sekolah. Berdasarkan data Depdiknas, hingga akhir 2008, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baru sekitar 50,03 persen dari 29,3 juta anak. Artinya separuh dari jumlah anak usia dini yang ada di negeri ini belum memperoleh layanan pendidikan. Target tahun 2009 adalah meningkatkan APK-PAUD dari 50% menjadi 54% dengan perioritas anak usia 2-4 tahun dapat terlayani PAUD nonformal.

Terpanggil dengan tingginya jumlah anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan, P&G bekerjasama dengan Unicef mengadakan program sosial bernama Balita Cerdas yang dikhususkan untuk membantu balita Indonesia mendapatkan pendidikan pra-sekolah yang layak.

Saat ini program percontohan khusus untuk kegiatan pengembangan PAUD yang dikelola oleh masyarakat dengan dukungan penuh P&G dan Unicef dipusatkan di 10 desa di Sukabumi. Program yang telah berlangsung hampir 2 tahun ini telah mampu membantu hampir 1000 Balita di wilayah tersebut.

Merujuk dari keberhasilan pelaksanaan program Balita Cerdas di daerah Sukabumi, maka P&G akan melanjutkan program sosial Balita Cerdas dan memperkenalkannya ke khalayak yang lebih luas melalui slogan 'Saving Brings Blessing' atau 'Hemat membawa Rakhmat' Balita Cerdas yaitu program sosial untuk membantu mengumpulkan donasi melalui pembelian produk-produk P&G melalui harga spesial (disertai tawaran manfaat ganda untuk konsumen).

Jika kita peduli dengan masa depan anak-anak bangsa, maka mulailah hari ini kita dukung untuk pendidikan mereka. Tidak harus dengan cara yang muluk. Hanya dengan setetes shampoo yang kita pakai setiap hari kita sudah bisa membantu mereka. P&G Balita Cerdas akan terus berkembang untuk membantu mencerdaskan anak bangsa dan membantu masa depan mereka lebih cerah!!

Mari satukan cinta untuk balita Indonesia!

Baca lebih lanjut...

Anak Yang Diidentifikasi Hiperaktif Bisa Normal Bookmark and Share

Joko (4 tahun) tampak sedang asyik mendengarkan guru membacakan cerita. Setelah itu tanpa canggung ia pun tampak mengambil crayon dan tangannya menari di atas buku gambarnya. Joko yang sejak kecil menutup mulut dan tidak mau berbicara, kini mulai percaya diri dan sesekali mencoba mengeluarkan sepatah dua patah kata.

"Sejak sekolah di sini, anak saya mulai berani bicara sedikit demi sedikit," kata ibunya Joko.

Lain Joko lain pula Andi. Andi (3 tahun) seorang anak yang sangat hiperaktif. Di rumah dia hampir tidak pernah bisa diam bahkan satu menit pun. Dia selalu bergerak ke sana kemari. Orang tuanya sering kewalahan menghadapi polahnya yang luar biasa aktifnya. Sampai akhirnya orang tuanya memasukkan dia ke pendidikan pra sekolah di dekat rumahnya. Kini Andi berangsur-angsur bisa berinteraksi seperti anak normal tanpa terapi khusus.

Sebenarnya betapa pentingnya pendidikan usia dini untuk anak usia 0 - 6 tahun. Karena usia anak 0 - 6 tahun merupakan usia emas, waktu yang sangat tepat untuk menggali segala potensi kecerdasan anak semaksimal mungkin. Namun sayangnya, pemahaman masyarakat akan pentingnya pedidikan usia dini masih terbilang rendah

Karena belum menjadi prioritas apalagi kewajiban, maka masih banyak anak usia dini yang berada di pedesaan serta merek ayang berasal dari keluarga miskin tidak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang layak sebelum memasuki jenjang wajib pendidikan dasar 9 tahun.

Mari satukan cinta untuk Balita Indonesia

Baca lebih lanjut...

Dimulai Dengan Door To Door... Bookmark and Share

Di sebuah desa Taman Posyandu di desa Benda di Kecamatan Cicurug, Sukabumi, tampak anak-anak balita berdesakan menempati bangunan rumah sementara untuk tempat mereka belajar. Segala sarana permainan seperti: ayunan, jungkat-jangkit, juga peralatan pendidikan seperti balok warna-warni dengan berbagai bentuk, kertas gambar, kertas berwarna... dan sebagainya semua tersedia.

Di desa ini kegiatan pendidikan didukung penuh oleh jajaran pemerintah lokal, Camat, Pak Kades dan Bu Kades juga kader-kader Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) yang dengan sukarela menjadi pengajar PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Taman Posyandu.

"Di desa ini awalnya memang hanya ada 3 buah TK yang formal, sementara masih banyak anak-anak yang tidak tertampung karena orang tuanya tidak mampu. Lalu tahun 2006, sebagai penggerak PKK, kita mendirikan PAUD secara mandiri dan seadanya. Tempatnya numpang di madrasah dan berjalan hanya dengan 15 murid," kata Bu Kades.

Pada awalnya, untuk mengajak anak-anak sekolah tidaklah mudah. Karena itu, para kader yang nota bene ibu-ibu PKK mengajak orang tua yang punya anak balita untuk sekolah dengan cara kunjungan dari rumah ke rumah.

Hingga akhir tahun 2006, jumlah anak usia dini di Indonesia, tercatat sebanyak 28.364.300 anak. Anak yang yang menikmati layanan pendidikan anak usia dini (PAUD), baik formal dan non formal, jumlahnya baru mencapai 13.223.812. Dari jumlah angka tersebut terlihat bahwa separuh anak-anak belum terlayani pendidikannya.

Fakta di atas, diperkuat oleh Laporan Unesco tahun 2005, dimana Angka partisipasi PAUD Indonesia termasuk yang terendah di dunia. Baru sekitar 20% dari 20 juta anak usia 0-8 tahun. Di dunia internasional, PAUD didefinisikan sebagai pendidikan bagi anak usia 0 sampai 8 tahun. Sedangkan Indonesia kategori PAUD, untuk usia 0-6 tahun. Unesco mencatat angka partisipasi PAUD di Indonesia lebih rendah dari Thailand (86%), Malaysia (89%), bahkan Filipina (27%) dan Vietnam (43%). Bila tidak segera dilakukan upaya cepat, maka dapat dibayangkan kualitas generasi masa depan bangsa Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga tersebut.

Untuk mendukung program pemerintah dalam rangka memberikan pendidikan bagi anak usia dini, P&G dan Unicef telah melakukan program untuk "Satu Tahun Seribu Balita Cerdas" Dalam dua tahun terakhir ini, P&G Balita Cerdas telah membantu penuh upaya penyelenggaraan 10 (sepuluh) PAUD dan bahkan empat diantaranya telah dibantu dengan pembangunan P&G Community Center (PGCC) di tiga desa di pelosok daerah Sukabumi. Saat ini lebih dari 1000 balita yang telah menjadi murid di sepuluh PAUD tersebut. Mereka belajar gratis tanpa dipungut bayaran. Mereka bukan hanya belajar dan bermain tapi mereka juga diajarkan cara hidup sehat. Dan dengan PGCC – sebagai Pusat Kegiatan Masyarakat yang sepenuhnya dimiliki dan dikelola oleh masyarakat, maka masyarakat setempat bisa memanfaatkannya untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi mereka sendiri. Misalnya kesehatan untuk ibu dan anak, kesehatan masyarakat, pelatihan ketrampilan (life skills)dan kegiatan sosial lainnya.

Masih banyak desa dan daerah lain yang memerlukan bantuan. Belajar dari keberhasilan P&G bersama dengan Unicef serta partisipasi masyarakat dan pemerintah daerah di Sukabumi, ke depannya P&G berencana untuk memperluas program percontohannya ke daerah lain. Diharapkan melalui kampanye "Satu Tahun Seribut Balita Cerdas", P&G Balita Cerdas akan terus berkembang untuk membantu mencerdaskan anak bangsa dan membuat masa depan mereka lebih cerah!

Baca lebih lanjut...

Pendidikan Anak Usia Dini Dapat Mengurangi Angka Putus Sekolah Bookmark and Share

Siang itu matahari bersinar terik. Anisa yang telah memakai seragam merah putih berangkat ke sekolah di sebuah desa di pedalaman Jawa Barat. Mulutnya terus terkatup, ketika guru memintanya untuk mengulang pelajaran berhitung yang sederhana. Dia bahkan sama sekali tidak membuka mulutnya untuk menjawab beberapa pertanyaan gurunya. Anisa sulit sekali diajak komunikasi. Dia tampak pasif dan penakut. Beda dengan Tomi walau sama-sama kelas satu SD, tapi Tomi lebih berani dan aktif. Anisa dan Tomi hanyalah contoh kecil, anak yang tidak ikut dan ikut PAUD.

Mengapa pendidikan anak usia dini menjadi penting? Dari berbagai penelitian tentang anak menunjukkan bahwa perkembangan intelektual anak terjadi sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun dan sisanya 20 tahun pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua.

Data dari Unicef juga menunjukkan bahwa anak-anak yang mengulang kelas adalah anak-anak yang tidak mengikuti PAUD sebelum masuk SD. Mereka adalah anak yang belum siap dan tidak dipersiapkan oleh orang tuanya memasuki SD. Adanya perbedaan yang besar antara pola pendidikan di sekolah dan di rumah menyebabkan anak yang tidak masuk pendidikan usia dini mengalami kejutan sekolah dan mereka mogok sekolah atau tidak mampu menyesuaikan diri sehingga tidak dapat berkembang secara optimal. Ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak usia dini.

Masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (0-6 th)terutama di desa-desa dan daerah pedalaman, karena kurangnya sosialisasi selain juga karena terbatasnya sarana dan prasarana.

Siapapun dan dimanapun mereka, anak-anak punya hak yang sama untuk mengecap pendidikan demi menyongsong masa depan mereka lebih baik. Karena dipundak merekalah nasib bangsa ini dipertaruhkan.

Baca lebih lanjut...

Aku Ingin Jadi Guru... Bookmark and Share

Cica nama balita itu. Tubuhnya kecil untuk anak usia 4 tahun. Alisnya tebal menutupi matanya yang kecil, tapi menyiratkan semangat. Setiap pagi dia diantar neneknya bersekolah di Taman Posyandu desa Benda, daerah Sukabumi. Orang tuanya bekerja sebagai buruh di perusahaan konveksi yang khusus membuat jaket. Cica baru 3 bulan sekolah di Taman Posyandu ini. "Setiap pagi dia minta cepat-cepat mandi untuk pergi ke sekolah. Kalau hari libur, dia sedih," kata nenek Cica.

Cica adalah salah satu dari puluhan anak balita di pelosok desa yang mempunyai hak yang sama dengan anak-anak balita lainnya di kota untuk mengecap pendidikan agar masa depan mereka jadi lebih baik.

Satu generasi ke depan, negara kita akan diwariskan kepada anak-anak balita yang ada sekarang. Akan menjadi seperti apa negara ini nantinya adalah hasil dari usaha dan pikiran mereka. Kita sebagai generasi sekarang tentunya ingin bangsa dan negara ini akan terus maju dan berkembang pesat dikemudian hari karena upaya kerja keras dan kecerdasan mereka. Oleh karenanya, pendidikan amatlah penting bagi para calon penerus masa depan bangsa kita. Tentu saja pendidikan ini haruslah dimulai sedini mungkin, sehingga perkembangan kecerdasan serta pendidikan mereka dapat dilakukan semaksimal mungkin sesuai dengan potensi mereka.

Berbagai penelitian membuktikan, usia dini (0-6 tahun) merupakan periode atau masa keemasan (the golden age) yang sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Kecerdasan anak mencapai 50 persen pada usia 0 – 4 tahun, sebanyak 80 persen pada usia delapan tahun, dan mencapai 100 persen pada usia 18 tahun. Ini berarti masa emas seorang anak berada pada usia dini, sebelum berusia 7 tahun. Pada masa ini, seorang anak mampu menyerap ide dan pengetahuan jauh lebih kuat daripada orang dewasa.

Sayangnya, belum semua orangtua – dengan berbagai alasan baik ekonomi ataupun sosial - menyadari potensi genetis anak di usia dini. Hingga akhir 2008, Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)baru sekitar 50,03 persen dari 29,8 juta anak*. Dengan demikian, hampir separuh dari jumlah anak usia dini yang ada di negeri ini belum memperoleh layanan pendidikan.

Pemerintah saat ini memang sedang menggalakkan upaya peningkatan layanan PAUD agar lebih merata serta lebih berkualitas. Namun tentu saja upaya ini memerlukan waktu mengingat masih banyaknya daerah yang mampu merealisasikannya. Anak-anak itu perlu tumbuh menjadi sumber daya yang amat berharga dalam membangun bangsa ini di masa depan. Haruskah mereka yang tidak memiliki akses dan kesempatan saat ini menjadi bagian dari generasi yang hilang?

Jadi, maukah anda berpartisipasi untuk menolong mereka. Saatnya bagi kita untuk membangun bangsa ini dengan mengulurkan tangan sekarang untuk hasil yang lebih baik di kemudian hari? Selamatkan generasi penerus bangsa dengan membantu mereka mendapatakan PAUD , demi sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan.

* Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Direktorat Jenderal Pendidikan Formal dan Informal (PNFI), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)

Baca lebih lanjut...

15 Juta Anak Indonesia Belum Mempunyai Kesempatan pendidikan Anak Usia Dini.* Bookmark and Share

Farel (4 th) adalah balita di sebuah desa di pedalaman Sukabumi, dari luar ia kelihatan ceria bermain jungkat-jangkit dengan teman-temannya. Siapa sangka sebelumnya dia anak yang luar biasa egois, susah diatur, pemarah sampai membuat kewalahan orang tuanya. Atas saran tetangganya yang aktif di Posyandu, Farel dibawa ibunya untuk belajar di Taman Posyandu yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Betul saja, setelah 3 bulan dia ikut PAUD, tampak farel mulai berubah. Hal ini diakui ibunya. "Waduh dulunya Farel itu pemarah, nakal, sangat hiperaktif, dan gak mau berbagi dengan temen-temennya. Tapi setelah dia bersosialisasi di sini...kelihatan sekali perubahannya." Kata gurunya.

Lain Farel lain pula Jusuf. Walaupun orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek, tapi Jusuf penuh semangat setiap pagi belajar di Taman Posyandu. Ibunya terutama, ingin anaknya kelak bisa lebih maju. Jusuf memang lebih pintar dibanding kakaknya yang sebelumnya tidak pernah ikut PAUD. "Jusuf...udah bisa menghitung sampai seratus. Udah bisa menggambar. Mewarnai. Dia lebih pinter dari kakaknya," kata ibunya dengan bangga.

Belum banyak orang tua yang tahu bahwa usia enam tahun pertama (0-6 th) adalah periode paling sensitif. Periode ini menjadi fondasi tumbuh dan kembang anak. Karena pada saat ini, anak belajar lebih cepat dibandingkan dengan periode lainnya. Perkembangan di usia ini akan lebih cepat jika mereka mendapat kasih sayang, afeksi, perhatian, dorongan dan stimulasi mental sejak dini.

Mungkin stimulasi pada anak bisa saja dilakukan sendiri oleh orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Tapi banyak ahli psikologi perkembangan anak menilai stimulasi dari orang tua dan keluarga tidaklah cukup untuk mengoptimalkan kecerdasan seorang anak. Karena anak justru amat membutuhkan lingkungan yang dibutuhkan seiring bertambahnya usia seorang balita.

Untuk itu, anak wajib mengikuti pendidikan anak untuk usia dini. Dengan anak mengikuti PAUD, mereka diajarkan bermain kreatif untuk menunjang pertumbuhan aspek kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Karena sebenarnya 40% kemampuan intelektual seseorang dibentuk pada 3 tahun pertama hidupnya dan separuhnya dibentuk sebelum lahir (80% pertumbuhan otak). Dan stimulasi awal pada anak dapat meningkatkan IQ sebesar 10 poin dan mengurangi angka putus sekolah.

Sebegitu pentingnya pendidikan anak untuk usia dini ini namun sayangnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap pemberian layanan bagi anak usai dini (0-6 th) masih sangat rendah. Hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan anak usia dini itu.

Sosialisasi pendidikan anak usia dini diakui belum menyentuh secara merata pada lapisan masyarakat terbawah di tingkat kecamatan dan kabupaten/kota.

*) data UNICEF

Baca lebih lanjut...

Secangkir Kopi di Kafe Untuk 3 Anak Balita Bookmark and Share

Mau ngopi di mana kita hari ini? Kafe dekat kantor? Atau di mall tempat kita biasa hang out sama temen-temen? Kalau di inget-inget, kira-kira berapa biaya yang biasa kita habiskan untuk segelas kopi tiap kali kita ngumpul atau sekedar ngobrol bareng temen? Tau gak sih, segelas kopi yang kita beli dapat membiayai 3 anak balita untuk menjalani pendidikan anak usia dini (PAUD).

Berdasarkan data dari Unicef masih sekitar 15 juta anak usia dini di Indonesia belum tersentuh pendidikan anak usia dini. Padahal pendidikan anak usia dini itu sebenarnya penting banget. Dari berbagai penelitian membuktikan, usia dini (0-6 th) merupakan periode atau masa keemasan (the golden age) yang sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini seorang anak mampu menyerap ide dan pengetahuan jauh lebih kuat daripada orang dewasa.

Untuk itu kesadaran pentingnya PAUD harus terus disosialisasikan sampai ke pelosok desa. Salah satu contoh sosialisasi PAUD sudah merebak di beberapa desa di pedalaman Sukabumi. Di desa Benda, kecamatan Cicurug Sukabumi kita bisa melihat fenomena yang mengharukan. Anak-anak balita setiap pagi menapaki jalan panjang curam dan berliku untuk sampai di sekolah, sebuah Taman Posyandu. Mereka tampak bersemangat walau ke sekolah dengan hanya beralaskan sandal. Orang tua mereka rata-rata bekerja sebagai buruh pabrik, petani, tukang batu, pedagang es, tukang ojek. Mereka di sana belajar gratis tanpa dipungut bayaran. Bukan hanya bermain sambil belajar, tapi mereka juga diajarkan cara hidup sehat.

Serli, Bunga, Sri Mulyani, Hasan, Delia, Tomi dan puluhan anak lainnya di desa Benda sama dengan anak lainnya di kota. Mereka mempunyai hak yang sama untuk mengenyam pendidikan demi menyongsong hidup dan masa depan yang lebih cerah!

Mari mulai hari ini kita renungkan, setiap kali kita minum segelas kopi di kafe, bisa berarti banyak untuk balita Indonesia.

Selamat ulang tahun anak-anak Indonesia! Jangan lupa memeluk dan mencium anak, keponakan kita hari ini. Mari satukan cinta untuk balita Indonesia.

Baca lebih lanjut...

Apa Kata Mereka Bookmark and Share


Susan Bachtiar


 

Pendidikan untuk anak di Indonesia masih belum merata. Di Jakarta mungkin sudah cukup, tetapi anak-anak di daerah-daerah terpencil belum merasakan pendidikan yang layak. Hal itu memang terbentur beberapa kendala, seperti: biaya, jarak sekolah yang jauh, dan belum cukupnya kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan.

Keadaan tersebut, bisa diatasi dengan penyuluhan pendidikan. Misalnya melibatkan TVRI yang jangkauannya sampai ke daerah terpencil. Lebih baik lagi jika edukasi dilakukan secara berkesinambungan, dan melibatkan pemerintah setempat.

Sosialisasi pendidikan anak usia dini (PAUD) pada masyarakat, juga akan memberikan dampak yang baik bagi anak-anak. Sebab bisa melatih perkembangan motorik anak. Metode yang digunakan adalah belajar sambil bermain. Sehingga anak tumbuh cerdas, sehat, dan bahagia.


Jamie Aditya


 

Anak-anak Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang lainnya, walaupun mereka kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang selayaknya tapi dengan adanya PAUD mereka bisa mendapatkan pendidikan gratis dengan fasilitas yang sama bagusnya.

Saya bangga diajak bergabung untuk melihat langsung program Balita Cerdas di Sukabumi dan saya merasakan antusias anak-anak di Desa Benda untuk sekolah, betapa semangatnya mereka untuk bersekolah walaupun harus berjalan jauh dari tempat tinggalnya.

Dengan adanya Balita Cerdas, tidak ada alasan lagi anak-anak tidak bersekolah dan para orang tua agar lebih menyadari lagi pentingnya pendidikan usia dini. Semoga program ini dapat diikuti yang lainnya dan anak Indonesia semakin cerdas.


Shahnaz Haque
( Brand Ambassador P&G )

 

  1. Perkembangan anak di masa keemasan 0-6 tahun bagaikan sponge yang mampu menyerap apa pun. Tuhan menciptakan otak manusia dengan luar biasa, di masa tersebut bagaikan pondasi yang harus kokoh untuk masuk ke tahap 7 tahun kedua. Di tahap awal ini perkenalkan anak dengan segala macam permainan sebagai stimulus ke 8 kecerdasan manusia. Tetapi bentuknya bermain sambil belajar. Jangan putus asa kalau mereka bosan dalam mempelajari suatu hal. Orang dewasa yang mendampingi mereka hanya sebagai fasilitator agar potensi tersebut optimal. Jangan mereka dipaksa melakukan hanya berdasarkan obsesi orang tua, banyak belakangan ini terjadi, karena itu sudah masuk dalam eksploitasi.

    Sosiolog Morris Massey mengatakan ada beberapa periode perkembangan anak di mana mereka mengadopsi segala sesuatu yang mempengaruhi bahkan berdampak pada perilaku mereka. Di tahapan ini sedang 'imprint periode'. Apa yang dilihat, dilakukan akan menyerap langsung. Usia rawan karena mereka akan menganggap benar semua yang dilakukan. Itu sebabnya dekatkan mereka dengan banyak contoh baik. Tidak usah melalui verbal melainkan langsung dengan tindakan.
  2. Jika dikatakan balita Indonesia belum tersentuh pendidikan, harus betul-betul melakukan observasi di lapangan, terjun langsung, sebelum mengatakan hal tersebut. Karena jika mereka tinggal di kota, sekarang preschool sudah menjamur di mana-mana. Di kita anak umur 4 tahun akan masuk TK. Karena wajib masuk SD kelas 1 di usia 6 th. Jadi memang tidak bisa disama ratakan.

    Dalam pekerjaan saya, sering mewawancara little angels yang menolong pendidikan anak-anak miskin yang tidak mampu masuk sekolah resmi. Dan mereka ada di perkampungan, pelosok, bahkan di rimba sekali pun. Pernahkah tahu nama Butet Manurung? Ia salah satu orang hebat tsb. Ia mendirikan 'Sokola rimba'. Bahkan anak-anak tersebut sudah mempunyai prestasi menakjubkan. Mereka sempat membuat film tentang diri mereka sendiri sebagai anak hutan yang bahagia dan menang di festival film luar negeri. Jadi anak bangsa ini hebat, yang tinggal orang dewasa lakukan adalah membuka pintu-pintu kesempatan dan memancing mimpi mereka!
  3. Memang di negara maju sekolah gratis, dikasih makan siang dan buku tentunya. Indonesia harusnya menuju ke sana, tergantung apakah menteri pendidikan kita bisa mewujudkan hal itu. Karena setahu saya menteri pendidikan yang handal masih alm. Fuad Hasan.

    Kalau pun tidak gratis, janganlah buku sekolah diganti terus, atau kurikulum terlalu memberatkan siswa. Sehingga sekolah menjadi tempat yang tidak nyaman bagi murid dan guru. Jika sekolah di bangsa ini harus membayar, haruslah dengan nilai rupiah yang tidak terlalu mahal sehingga terjangkau.

    Memang masih banyak tugas yang harus diselesaikan dalam dunia pendidikan kita. Pernahkah tahu seorang putra Papua, Stefanus, yang sebelumnya hanya mengenakan koteka, pada tahun 2007 lalu berhasil mendptkan medali perunggu untuk lomba matematika tingkat dunia. Menilik kasus ini, kita dapat menyimpulkan banyak secercah harapan dengan keterbatasan lingkungan kondusif, gizi yang bagus, stimulus yang tepat, dengan keberlangsungan manusia yang cerdas.

    Di hari anak tahun ini saya ingin menebarkan banyak aura positif daripada hanya soal pesimis dan memandang sebelah mata terhadap potensi anak bangsa kita sendiri.

    Kesimpulannya, sebagai orang dewasa di usia anak-anak golden age, kita harus menanamkan rasa bangga dan cinta terhadap bangsa ini. Apa pun 'tembok' penghalang di depan mereka akan mudah dihancurkan kalau mereka sudah dibiasakan tangguh. Bahkan jika tidak bisa hancur,mereka akan bisa meloncatinya karena akan menjadi lebih tinggi dan besar dari masalah tersebut.

Ira Wibowo
( Brand Ambassador P&G )

 

Adakah yang lebih membahagiakan, daripada melihat anak kecil tertawa bahagia? Adakah yang lebih mampu menghilangkan segala rasa lelah, daripada senyum dan binar mata si balita?

Tentunya kita semua sudah menyadari bahwa anak-anak merupakan pemilik masa depan...tapi sudahkah kita melakukan usaha yang cukup, untuk membantu anak-anak meraih masa depan yang terbaik yang bisa mereka dapatkan?

Perkembangan anak di masa keemasan ( 0-6 tahun) sudah selayaknya menjadi prioritas kita...Saat dimana mereka mengembangkan pemahaman tentang dirinya secara sehat..sebagai individu dan sebagai anggota keluarga maupun lingkunan sosial yang lebih luas...

Mari kita berikan mereka rasa dicintai...rasa terlindungi...Mari kita bangun bersama pengharapan, kita tanamkan nilai-nilai kebaikan...

Mari kita beri anak-anak kesempatan untuk belajar...belajar sambil bermain...

Mari kita berikan mereka kesempatan untuk senantiasa tersenyum dan tertawa renyah..

Karena keceriaan adalah milik mereka....


Donna Agnesia
( Presenter )

 

Menurut saya usia 0-6 tahun adalah usia yg sangat penting, mengingat di usia itulah akan terbentuk kepribadian & watak seorang anak. Jadi perkembangannya harus sangat diperhatikan agar mereka tetap memiliki kepribadian anak2 sesuai usianya tanpa terkontaminasi hal2 yg blm saatnya diketahui atau dilakukan oleh anak2. Karena itu akan mempengaruhi kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Sangat disayangkan di Indonesia masih banyak anak2 yg kurang beruntung karena blm tersentuh pendidikan yg seharusnya mereka dapatkan sedini mungkin. Untuk itu pemerintah seharusnya lebih memperhatikan mereka, karena mereka2 inilah yg akan menjadi generasi penerus bangsa yg nantinya bertanggung jawab terhadap pembangunan & kemajuan negara kita tercinta ini.


Darius Sinathrya
( Aktor & Presenter )

 

Saya sangat mendukung diadakannya PAUD atau sekolah gratis, agar anak2 yg kurang beruntung ini tetap mendapatkan kesempatan yg sama dg anak2 lainnya yg lebih mampu. Dan hal ini sudah menjadi tanggung jawab kita bersama utk menciptakan manusia2 Indonesia yg berkualitas.


Daisy Setiawan
( General Manager Proximity Indonesia )

 

Menurut saya masih banyak orang tua di desa-desa yang belum mengerti apa itu PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), sehingga hal yang perlu kita lakukan adalah mengedukasi para orang tua tentang benefit dari PAUD bagi mereka dan anak-anak mereka.


Bambang Sumaryanto
( External Relations Director P&G )

 

Adalah menjadi komitmen kami, P&G untuk selalu berusaha membantu upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat dimana kami beroperasi, khususnya di bidang pendidikan. Melalui program Hemat membawa Berkah ini, kami mengajak para pemakai produk kami untuk menyatukan hati dan bersama-sama membantu lebih dari 20 juta Balita Indonesia.

Baca lebih lanjut...

Ayo Dukung Bookmark and Share

Selama Bulan ramadhan, lewat slogan ‘Saving brings Blessings’ Balita Cerdas akan mengumpulkan donasi melalui pembelian produk-produk P&G melalui harga special (disertai tawaran manfaat ganda untuk konsumen). Selama Juli – Oktober 2009, program skala nasional ini juga didukung oleh merek-merek P&G yang telah dikenal, brand ambassadors, key accounts, dan diharapkan, program ini juga memperoleh dukungan penuh dari media dan masyarakat.

Baca lebih lanjut...

Mitra Balita Cerdas Bookmark and Share

Baca lebih lanjut...

Program Balita Cerdas Bookmark and Share

Membangun P&G Community Center ( Balai Rakyat ) sebagai sarana bagi masyarakat yang sekaligus menjalankan PAUD dan Daily Day Care ( penitipan anak ), POSYANDU, dan Pusat Pelatihan bagi orang tua.

Berkolaborasi bersama dengan customer, media dan selebritis, dsb.

Keterlibatan pegawai berupa partisipasi dalam program bisa dilihat seperti kader POSYANDU, khususnya dalam memberikan bimbingan kesehatan, aktifitas yang mendidik dan bimbingan pendidikan dan pelatihan bagi para orang-tua.

Detil program

  • Bagi Balita ( anak-anak < 5 tahun )
    • Day Care untuk anak-anak 0-3 tahun ( 2x seminggu )
    • PAUD untuk anak-anak 3-6 tahun ( 3x seminggu ) – LEARN
  • Bagi Ibu
    • Bimbingan kesehatan dan Nutrisi – termasuk program CSWD
    • Maksimalisasi aktifitas PKK – program pemberdayaan Ibu muda ( keahlian khusus, dsb ) – THRIVE
  • Aktifitas POSYANDU ( sekali sebulan ) – LIVE
  • Aktifitas di P&G community center ( Balai Rakyat )
    • Aktifitas keagamaan – khususnya bagi wanita
    • Pos Siskamling
    • Gedung serba guna

Baca lebih lanjut...

Anak-anak Balita Cerdas Bookmark and Share

Baca lebih lanjut...

Tentang Balita Cerdas Bookmark and Share

Latar Belakang

Populasi anak-anak umur 0-6 tahun adalah 26,1 juta anak, sekitar 73% dari anak-anak berumur 0-6 tahun tidak mempunyai akses untuk mendapatkan pengembangan pendidikan anak usia dini.

Pada tahun 2003, pemerintah merevisi undang-undang tentang pendidikan nomor 20 yang menekankan bahwa pendidikan anak usia dini sangatlah penting dalam memasuki sekolah dasar.

Visi misi program

  • Memberikan anak-anak awal kehidupan yang baik
  • Membantu anak-anak bertahan hidup dan berkembang
  • Membantu anak-anak mengenyam pendidikan
  • Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman
  • Menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan berpendidikan melalui P&G Community Cernter darimana anak-anak itu berasal dan dimana program PUR dijalankan melalui POSYANDU dan dilaksanakan oleh ibu-ibu PKK

Balita Cerdas sebagai program masyarakat dapat membantu meningkatkan kualitas hidup anak-anak dari umur 0-6 tahun, untuk mendapatkan Pendidikan Anak Usia Dini, sehingga dapat meraih kehidupan yang layak di kemudian hari.

BERITA PERS

SATUKAN CINTA UNTUK BALITA INDONESIA

Satu Tahun Seribu Balita Cerdas

Jakarta, 27 Juli 2009 - Berdasarkan data Depdiknas, hingga akhir 2008, Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baru sekitar 50,03 persen dari 29,8 juta anak. Artinya separuh dari jumlah anak usia dini yang ada di negeri ini belum memperoleh layanan pendidikan. Target tahun 2009 adalah meningkatkan APK-PAUD dari 50% menjadi 54% dengan prioritas anak usia 2-4 tahun dapat terlayani PAUD nonformal.

Data tersebut menunjukkan lebih dari 20 juta BALITA Indonesia tidak memiliki kesempatan mengenyam PAUD. Padahal Pendidikan pra-sekolah adalah pondasi penting yang harus dienyam balita Indonesia untuk memastikan kesiapan balita dalam memasuki sekolah dasar dan tingkat lanjutannya. Hal ini diperkuat oleh data Unicef yang menunjukkan, bahwa hampir 70% anak yang putus sekolah dari Sekolah Dasar (SD) karena mereka tidak siap untuk berinteraksi dan mengikuti pendidikan SD.

Pendidikan adalah dasar utama yang penting dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Inilah modal yang dibutuhkan anak bangsa untuk bisa bertahan di tangah persaingan global dan maju untuk memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara. Oleh karena itulah P&G sebagai salah satu perusahaan produk konsumen terbesar di dunia, memilih untuk memusatkan perhatian kegiatan layanan masyarakatnya kepada anak-anak dengan usia di bawah 13 tahun melalui Tema Global LLT - Live, Learn and Thrive.

Terpanggil dengan tingginya jumlah anak yang belum mendapat layanan pendidikan, P&G bekerjasama dengan Unicef (United Nations Children's Fund) mengadakan program sosial bernama Balita Cerdas yang dikhususkan untuk membantu balita di Indonesia memperoleh pendidikan pra-sekolah yang layak.

Saat ini Program Percontohan khusus untuk kegiatan pengembangan PAUD yang dikelola oleh masyarakat dengan dukungan penuh P&G dan Unicef dipusatkan di 10 Desa di Sukabumi. Program yang telah berlangsung hampir 2 tahun ini, telah mampu membantu hampir 1000 Balita di wilayah tersebut. Ke 10 PAUD di Taman Posyandu ini telah memiliki kader dan tenaga pengajar sukarela yang telah qualified karena mereka telah melalui program pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemda Sukabumi dan Unicef, termasuk pelatihan Pelatih Ahli PAUD. Lebih dari 100 Kader PAUD dan 1180 orangtua telah mengikuti pelatihan dengan dukungan penuh dari P&G dan Unicef.

Dalam salah satu wawancaranya di tahun 2007, Direktur PAUD, Ditjen PNFI menyatakan, bahwa PAUD menjadi komitmen nasional, antara lain tertuang dalam amandemen UU 1945 pasal B ayat (2) bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Selain itu dapat ditambahkan pula, bahwa Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Program sosial Balita Cerdas di Sukabumi yang telah berjalan dengan baik sejak tahun lalu, terutama berkat dukungan dari pemerintah setempat, serta dengan dukungan penuh karyawan dan manajemen P&G, para bintang iklan produk P&G serta tokoh yang sangat perhatian terhadap perkembangan anak, antara lain: Soraya Haque, Purwatjaraka (composer), Shannaz Haque, Annisa Pohan, Nirina Zubir, Darius & Donna Sinathrya, dan Susan Bachtiar. Tentu saja peran tokoh masyarakat setempat dipimpin oleh Kepala Desa Benda dan Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Desa Benda merupakan kunci utama suksesnya program ini. Bahkan P&G telah membangun 4 (empat) bangunan Pusat Kegiatan Masyarakat (Community Centre) dengan nilai lebih dari Rp 1 Milyar untuk digunakan sebagai fasilitas PAUD serta kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Belajar dari suksesnya pelaksanaan program Balita Cerdas di daerah Sukabumi, maka P&G berencana untuk melanjutkan program sosial Balita Cerdas dan emperkenalkannya ke khalayak yang lebih luas lagi untuk mengetuk perhatian dan partisipasi masyarakat.

Selama Bulan ramadhan, lewat slogan 'Saving brings Blessings' Balita Cerdas akan mengumpulkan donasi melalui pembelian produk-produk P&G melalui harga special (disertai tawaran manfaat ganda untuk konsumen). Selama Juli - Oktober 2009, program skala nasional ini juga didukung oleh merek-merek P&G yang telah dikenal, brand ambassadors, key accounts, dan diharapkan, program ini juga memperoleh dukungan penuh dari media dan masyarakat.

"Adalah menjadi komitmen kami, P&G untuk selalu berusaha membantu upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat dimana kami beroperasi, khususnya di bidang pendidikan. Melalui program Hemat membawa Berkah ini, kami mengajak para pemakai produk kami untuk menyatukan hati dan bersama-sama membantu lebih dari 20 juta Balita Indonesia" demikian ditegaskan Bambang Sumaryanto, External Relations Director P&G.

Dengan ditingkatkankan komitmen untuk membantu program BALITA CERDAS, maka akan ada banyak program khusus yang dilakukan P&G, seperti:

  • Untuk Balita
    • Day care untuk anak usia 0-3 tahun (2 kali seminggu)
    • PAUD (Pengembangan Anak Usia Dini)/ ECD (Early Children Development untuk anak usia 3-6 tahun (3 kali seminggu)
  • Untuk Ibu
    • Pelatihan kesehatan dan nutrisi
    • Memaksimalkan aktifitas PKK
  • Aktifitas Posyandu
    • Untuk Komunitas
    • Aktifitas keagamaan
    • Siskamling
    • Aula serbaguna

Informasi mengenai program ini akan disebarkan melalui banyak media dan mekanisme program akan dibuat sesimpel mungkin sehingga masyarakat bisa berpartisipasi secara mudah.

Mari Satukan Cinta Untuk Balita Indonesia – Demi Masa Depan Bangsa Yang Lebih Baik.

Tentang Procter & Gamble

Tiga juta kali setiap harinya, produk-produk P&G menyentuh hidup dari banyak orang di seluruh dunia. Perusahaan ini memiliki portfolio yang merupakan salah satu yang terkuat di dunia dalam hal kepercayaan, kualitas, merek2 yang terkemuka, termasuk diantaranya Pampers®, Tide®, Ariel®, Always®, Whisper®, Pantene®, Mach3®, Bounty®, Dawn®, Pringles®, Folgers®, Charmin®, Downy®, Lenor®, Iams®, Crest®, Oral-B®, Actonel®, Duracell®, Olay®, Head & Shoulders®, Wella®, Gillette®, and Braun®. Komunitas P&G termasuk lebih dari 135.000 yang bekerja di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Kunjungi HYPERLINK "http://www.pg.com" http://www.pg.com untuk berita-berita terkini dan informasi lebih jauh tentang P&G dan produk-produknya.

Untuk Keterangan lebih lanjut, hubungi :

Junita Kartikasari
PR Manager PT. Procter and Gamble Home Products Indonesia
Tel : 021 - 579 81380
Fax : 021 - 576 2609
Email : kartikasari.j@pg.com

Aviani Primasari
Proximity Indonesia
Tel : 021- 8379-4878
Fax : 021-8317786
Email : aviani.primasari@proximityindonesia.com

Baca lebih lanjut...