Mari Satukan Cinta UntuK Balita Indonesia

Hemat Membawa Rahmat di Bulan Penuh Berkah Bookmark and Share

Berhemat bukan berarti menutupi kesempatan berbagi pada sesama yang membutuhkan, terutama mereka para balita yang kesulitan mendapatkan pendidikan usia dini (PAUD). Cara paling mudah untuk membantu mereka adalah dengan cara berbelanja.

Jangan kaget dengan ide belanja demi berbagi. Berbelanja mungkin identik dengan buang-buang uang bahkan perilaku hedonis. Namun, tidak demikian bila turut berpartisipasi dalam Saving Bring Blessings (Hemat Membawa Rahmat). Dalam program yang berlangsung selama Ramadhan, setiap pembelian produk P&G berharga spesial akan didonasikan untuk kegiatan Balita Cerdas.

Balita Cerdas adalah salah satu bentuk kepedulian P&G terhadap balita di Indonesia yang masih sulit mengakses PAUD (0-6 th). Hal ini sangat disayangkan, mengingat masa keemasan (golden age) adalah masa paling penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Pada periode ini, seorang anak akan menyerap banyak pengetahuan baru sebagai bekal untuk pendidikan jenjang yang berikutnya. Sangat disayangkan bila latar belakang ekonomi dan kurangnya fasilitas membuat balita Indonesia kehilangan kesempatan untuk memperoleh stimulasi yang baik bagi proses tumbuh kembang mereka.

2 tahun sudah program ini berjalan di Sukabumi dengan dukungan penuh dari berbagai pihak mulai dari pemerintah setempat, tokoh masyarakat setempat, serta bintang iklan produk P&G, dan tokoh yang peduli pada anak, seperti: Soraya Haque, Purwatjaraka (composer), Shahnaz Haque, Ira Wibowo, Nirina Zubir, Annisa Pohan, dan Susan bachtiar.

Di bulan penuh berkah ini marilah kita bersama-sama menyelamatkan masa depan pendidikan balita dengan cara paling mudah yang rutin kita lakukan setiap bulannya, yaitu dengan berbelanja. Saving Bring Blessings (Hemat Membawa Rahmat), sembari membawa sekeranjang belanjaan, ternyata kita bisa membawa rahmat bagi balita Indonesia, bagi pendidikannya, bagi masa depannya, bagi kemajuan bangsa Indonesia.

P&G dan Balita Cerdas mengucapkan selamat berpuasa

Baca lebih lanjut...

Jadilah Pahlawan Bagi Mereka Bookmark and Share

"Merdeka!" Pekik kemenangan dikumandangkan ke penjuru negeri saat Bung Karno selesai membacakan Proklamasi Kemenangan Indonesia. 64 tahun berlalu sejak para pahlawan berjuang demi masa depan rakyat Indonesia. Namun saat ini, di sana-sini masih ada rakyat Indonesia yang masa depannya tertutup kabut tebal.

Ana kecil, Andi kecil, dan ribuan bahkan ratusan ribu Ana dan Andi kecil lainnya di seluruh penjuru bumi nusantara ini masih belum seberuntung anak-anak lainnya yang mampu mengenyam pendidikan usia dini (0-6 th). Latar belakang ekonomi maupun ketiadaan fasilitas menjadi halangan bagi mereka untuk memanfaatkan masa keemasan (golden age) yang penting bagi pertumbuhan mereka ke depannya. Pada masa itulah, seorang anak mampu menyerap pengetahuan lebih banyak daripada orang dewasa.

Karena pentingnya peran pendidikan usia dini (PAUD), program ini harus terus disosialisasikan dari sabang sampai merauke, dari kota sampai pelosok desa. Salah satu sosialisasi yang terbilang sukses adalah program Balita Cerdas yang saat ini menjangkau beberapa desa di pedalaman Sukabumi atas dukungan P&G. Di Desa Benda, Kecamatan Cicurug - Sukabumi. Tanpa dipungut biaya, setiap paginya anak-anak balita berlatih menyanyi, menari, menggambar, dan mewarnai serta cara hidup sehat di Taman Posyandu.

Berpusat di 10 desa di Sukabumi, dalam kurun waktu 2 tahun, lebih dari 1000 balita telah menjadi murid di 10 PAUD. Program ini berlangsung dengan baik karena kerjasama yang solid mulai dari pemerintah setempat, tokoh masyarakat setempat, serta bintang iklan produk P&G, dan tokoh yang peduli pada anak, seperti: Soraya Haque, Purwatjaraka (composer), Shahnaz Haque, Ira Wibowo, Nirina Zubir, Annisa Pohan, Susan bachtiar.

Ana dan Andi kecil lainnya membutuhkan pahlawan. Bukan pahlawan yang mengusung senjata api, tapi pahlawan dengan hati untuk membantu menyapu kabut tebal dan memberikan sinar harapan bagi masa depan mereka. Kita semua bisa menjadi pahlawan dengan turut menyukseskan program PAUD bagi mereka, masa depan bangsa Indonesia.

Merdeka!
Mari satukan cinta untuk Balita Indonesia.

Baca lebih lanjut...

Balita Cerdas di Desa Benda, Sukabumi Bookmark and Share

Baca lebih lanjut...

1.000 Balita Bisa Tersenyum Kembali... Bookmark and Share

Tawa anak-anak selalu membawa keriangan sampai ke dalam hati. Matanya bening. Binarnya indah menyapu letih. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat anak kecil berceloteh riang dan tertawa bahagia.

Di mana pun anak-anak balita punya tingkah laku yang sama, selalu memberikan respons yang asertif, lucu , menantang, dan punya sifat ingin tahu. Anak balita juga suka menyanyi, energik, banyak mengoceh, suka mengamati, dan tidak pernah terduga.

Karena pada saat itu, anak-anak menampung semua yang berada di sekeliling mereka. Semua yang ada dalam lingkungan mereka ditangkap melalui panca indera. Pada saat itu mereka memiliki kemampuan penangkapan yang jauh lebih besar daripada orang dewasa.

Karena itu, di usia balita ini anak perlu mendapat arahan yang tepat. Stimulus yang tepat dan variatif agar potensi mereka bisa berkembang maksimal. Stimulus pada anak memang bisa dilakukan sendiri oleh orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Namun banyak ahli psikologi perkembangan anak yang menilai stimulus dari orang tua dan keluarga tidaklah cukup untuk mengoptimalkan kecerdasan seorang anak. Lingkungan terutama lingkungan sebaya dengan anak justru amat dibutuhkan.

Di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) anak diberikan peluang agar mereka bisa mendapatkan stimulus lebih variatif. Di PAUD, anak tidak hanya belajar hal-hal yang persona seperti kemampuan mengekspresikan diri, ketrampilan motorik, tetapi juga belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya dengan gurunya dan orang-orang yang terlibat dalam PAUD. Ini yang membuat anak akan mendapatkan stimulus yang lebih variatif dan beragam.

Sayangnya, belum semua orangtua menyadari pentingnya pendidikan untuk anak di usia dini. Hingga akhir 2008, Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD baru sekitar 50,03 persen dari 29,8 juta anak*. Dengan demikian, hampir separuh dari jumlah anak usia dini yang ada di negeri ini belum memperoleh layanan pendidikan.

Padahal bila layanan PAUD lebih merata dan bermutu bisa direalisasikan, anak-anak itu akan tumbuh menjadi sumber daya yang amat berharga dalam membangun bangsa ini di masa depan.

P&G merasa terpanggil untuk membantu anak-anak balita Indonesia mendapatkan layanan PAUD yang layak dengan mengadakan program sosial Balita Cerdas.

Dan selama bulan ramadhan P&G akan mengadakan program sosial berskala nasional yaitu "Hemat membawa Rakhmat" Balita Cerdas. Program ini bertujuan mengumpulkan donasi melalui pembelian produk-produk P&G melalui harga special untuk membantu pendidikan anak-anak usia dini. Jadi selain kita bisa mendapatkan produk bermutu dengan harga special, kita juga langsung bisa beramal.

Sekarang maukah kita berbagi dengan mengulurkan tangan untuk membantu anak-anak balita mendapatakan PAUD , demi sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan?

Ayo dukung balita Indonesia!

* Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Direktorat Jenderal Pendidikan Formal dan Informal (PNFI), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)

Baca lebih lanjut...

Satu Tahun Seribu Balita Cerdas Bookmark and Share

Senang campur haru melihat anak-anak usia balita satu demi satu berjalan melewati jalan sempit yang curam untuk sampai ke sekolah. Sekolah mereka kini sudah berdiri tegak dan layak. Kedatangan mereka disambut oleh guru yang tidak bukan adalah kader atau tenaga pengajar sukarela yang telah qualified, karena mereka telah diberikan pelatihan melalui program yang dilakukan Dinas Pendidikan Pemda Sukabumi dan Unicef, termasuk pelatihan Pelatih Ahli PAUD.

Pemerintah saat ini memang sedang menggalakkan upaya peningkatan layanan PAUD agar lebih merata serta lebih berkualitas. Berdasarkan data Depdiknas bahwa lebih dari 20 juta Balita Indonesia tidak memiliki kesempatan mengenyam PAUD. Padahal pendidikan adalah dasar utama yang penting dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Inilah modal yang dibutuhkan anak bangsa untuk bertahan di tengah persaingan global dan maju untuk memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara.

Karena itulah P&G sebagai salah satu perusahaan produk konsumen terbesar di dunia, memilih untuk memusatkan perhatian kegiatan layanan masyarakatnya kepada anak-anak dengan usia di bawah 13 tahun melalui Tema Global LLT – Live, Learn, and Thrive.

Terpanggil dengan tingginya jumlah anak yang belum mendapat layanan pendidikan, P&G bekerjasama dengan Unicef mengadakan program sosial bernama Balita Cerdas yang dikhususkan untuk membantu balita di Indonesia mendapatkan pendidikan usia dini yang layak.

Program yang telah berjalan 2 tahun ini dipusatkan di 10 desa di Sukabumi. Saat ini lebih dari 1000 balita telah menjadi murid di 10 PAUD tersebut. Mereka belajar gratis. Program Balita Cerdas di Sukabumi telah berjalan dengan baik Karena dukungan dari pemerintah setempat, para bintang iklan produk P&G serta tokoh yang sangat perhatian terhadap perkembangan anak, antara lain: Soraya Haque, Purwatjaraka (composer), Shannaz Haque, Ira Wibowo, Nirina Zubir, Annisa Pohan, Susan Bachtiar. Juga peran tokoh masyarakat setempat seperti Kepala Desa dan Bu Kades selaku penggerak PKK yang merupakan kunci utama suksesnya program ini. Bahkan P&G telah membangun 4 pusat kegiatan masyarakat dengan nilai lebih dari 1 milyar rupiah untuk digunakan sebagai fasilitas PAUD serta kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Ke depannya P&G berencana akan memperluas program percontohannya ke daerah lain. Selanjutnya diharapkan melalui kampanye "Satu Tahun Seribu Balita Cerdas", P&G Balita Cerdas akan terus berkembang . Mulai hari ini kita juga bisa ikut berpartisipasi membantu untuk pendidikan anak balita dengan membeli produk-produk P&G berlabel "Hemat Membawa Rakhmat".

Ayo dukung balita Indonesia untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah!

Baca lebih lanjut...

Setetes Shampoo Untuk Dukung Balita Bookmark and Share

Aminah (3th) asyik berlarian di tengah keramaian pasar, sementara pagi itu ibunya sibuk melayani pembeli bunga tabur di pasar yang kumuh dan becek. Di lain tempat tampak Bondan (3,5 th) meraung-raung sambil menangis terus.membuntuti ayahnya yang pagi itu akan pergi melaut. Aminah dan Bondan adalah salah contoh kecil yang sehari-hari bermain tak terarah, orang tua mereka tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan mereka.

Mereka hanyalah contoh kecil padahal masih banyak anak-anak di daerah lainnya yang belum terjangkau oleh pentingnya pendidikan pra-sekolah. Berdasarkan data Depdiknas, hingga akhir 2008, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baru sekitar 50,03 persen dari 29,3 juta anak. Artinya separuh dari jumlah anak usia dini yang ada di negeri ini belum memperoleh layanan pendidikan. Target tahun 2009 adalah meningkatkan APK-PAUD dari 50% menjadi 54% dengan perioritas anak usia 2-4 tahun dapat terlayani PAUD nonformal.

Terpanggil dengan tingginya jumlah anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan, P&G bekerjasama dengan Unicef mengadakan program sosial bernama Balita Cerdas yang dikhususkan untuk membantu balita Indonesia mendapatkan pendidikan pra-sekolah yang layak.

Saat ini program percontohan khusus untuk kegiatan pengembangan PAUD yang dikelola oleh masyarakat dengan dukungan penuh P&G dan Unicef dipusatkan di 10 desa di Sukabumi. Program yang telah berlangsung hampir 2 tahun ini telah mampu membantu hampir 1000 Balita di wilayah tersebut.

Merujuk dari keberhasilan pelaksanaan program Balita Cerdas di daerah Sukabumi, maka P&G akan melanjutkan program sosial Balita Cerdas dan memperkenalkannya ke khalayak yang lebih luas melalui slogan 'Saving Brings Blessing' atau 'Hemat membawa Rakhmat' Balita Cerdas yaitu program sosial untuk membantu mengumpulkan donasi melalui pembelian produk-produk P&G melalui harga spesial (disertai tawaran manfaat ganda untuk konsumen).

Jika kita peduli dengan masa depan anak-anak bangsa, maka mulailah hari ini kita dukung untuk pendidikan mereka. Tidak harus dengan cara yang muluk. Hanya dengan setetes shampoo yang kita pakai setiap hari kita sudah bisa membantu mereka. P&G Balita Cerdas akan terus berkembang untuk membantu mencerdaskan anak bangsa dan membantu masa depan mereka lebih cerah!!

Mari satukan cinta untuk balita Indonesia!

Baca lebih lanjut...

Anak Yang Diidentifikasi Hiperaktif Bisa Normal Bookmark and Share

Joko (4 tahun) tampak sedang asyik mendengarkan guru membacakan cerita. Setelah itu tanpa canggung ia pun tampak mengambil crayon dan tangannya menari di atas buku gambarnya. Joko yang sejak kecil menutup mulut dan tidak mau berbicara, kini mulai percaya diri dan sesekali mencoba mengeluarkan sepatah dua patah kata.

"Sejak sekolah di sini, anak saya mulai berani bicara sedikit demi sedikit," kata ibunya Joko.

Lain Joko lain pula Andi. Andi (3 tahun) seorang anak yang sangat hiperaktif. Di rumah dia hampir tidak pernah bisa diam bahkan satu menit pun. Dia selalu bergerak ke sana kemari. Orang tuanya sering kewalahan menghadapi polahnya yang luar biasa aktifnya. Sampai akhirnya orang tuanya memasukkan dia ke pendidikan pra sekolah di dekat rumahnya. Kini Andi berangsur-angsur bisa berinteraksi seperti anak normal tanpa terapi khusus.

Sebenarnya betapa pentingnya pendidikan usia dini untuk anak usia 0 - 6 tahun. Karena usia anak 0 - 6 tahun merupakan usia emas, waktu yang sangat tepat untuk menggali segala potensi kecerdasan anak semaksimal mungkin. Namun sayangnya, pemahaman masyarakat akan pentingnya pedidikan usia dini masih terbilang rendah

Karena belum menjadi prioritas apalagi kewajiban, maka masih banyak anak usia dini yang berada di pedesaan serta merek ayang berasal dari keluarga miskin tidak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang layak sebelum memasuki jenjang wajib pendidikan dasar 9 tahun.

Mari satukan cinta untuk Balita Indonesia

Baca lebih lanjut...

Dimulai Dengan Door To Door... Bookmark and Share

Di sebuah desa Taman Posyandu di desa Benda di Kecamatan Cicurug, Sukabumi, tampak anak-anak balita berdesakan menempati bangunan rumah sementara untuk tempat mereka belajar. Segala sarana permainan seperti: ayunan, jungkat-jangkit, juga peralatan pendidikan seperti balok warna-warni dengan berbagai bentuk, kertas gambar, kertas berwarna... dan sebagainya semua tersedia.

Di desa ini kegiatan pendidikan didukung penuh oleh jajaran pemerintah lokal, Camat, Pak Kades dan Bu Kades juga kader-kader Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) yang dengan sukarela menjadi pengajar PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Taman Posyandu.

"Di desa ini awalnya memang hanya ada 3 buah TK yang formal, sementara masih banyak anak-anak yang tidak tertampung karena orang tuanya tidak mampu. Lalu tahun 2006, sebagai penggerak PKK, kita mendirikan PAUD secara mandiri dan seadanya. Tempatnya numpang di madrasah dan berjalan hanya dengan 15 murid," kata Bu Kades.

Pada awalnya, untuk mengajak anak-anak sekolah tidaklah mudah. Karena itu, para kader yang nota bene ibu-ibu PKK mengajak orang tua yang punya anak balita untuk sekolah dengan cara kunjungan dari rumah ke rumah.

Hingga akhir tahun 2006, jumlah anak usia dini di Indonesia, tercatat sebanyak 28.364.300 anak. Anak yang yang menikmati layanan pendidikan anak usia dini (PAUD), baik formal dan non formal, jumlahnya baru mencapai 13.223.812. Dari jumlah angka tersebut terlihat bahwa separuh anak-anak belum terlayani pendidikannya.

Fakta di atas, diperkuat oleh Laporan Unesco tahun 2005, dimana Angka partisipasi PAUD Indonesia termasuk yang terendah di dunia. Baru sekitar 20% dari 20 juta anak usia 0-8 tahun. Di dunia internasional, PAUD didefinisikan sebagai pendidikan bagi anak usia 0 sampai 8 tahun. Sedangkan Indonesia kategori PAUD, untuk usia 0-6 tahun. Unesco mencatat angka partisipasi PAUD di Indonesia lebih rendah dari Thailand (86%), Malaysia (89%), bahkan Filipina (27%) dan Vietnam (43%). Bila tidak segera dilakukan upaya cepat, maka dapat dibayangkan kualitas generasi masa depan bangsa Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga tersebut.

Untuk mendukung program pemerintah dalam rangka memberikan pendidikan bagi anak usia dini, P&G dan Unicef telah melakukan program untuk "Satu Tahun Seribu Balita Cerdas" Dalam dua tahun terakhir ini, P&G Balita Cerdas telah membantu penuh upaya penyelenggaraan 10 (sepuluh) PAUD dan bahkan empat diantaranya telah dibantu dengan pembangunan P&G Community Center (PGCC) di tiga desa di pelosok daerah Sukabumi. Saat ini lebih dari 1000 balita yang telah menjadi murid di sepuluh PAUD tersebut. Mereka belajar gratis tanpa dipungut bayaran. Mereka bukan hanya belajar dan bermain tapi mereka juga diajarkan cara hidup sehat. Dan dengan PGCC – sebagai Pusat Kegiatan Masyarakat yang sepenuhnya dimiliki dan dikelola oleh masyarakat, maka masyarakat setempat bisa memanfaatkannya untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi mereka sendiri. Misalnya kesehatan untuk ibu dan anak, kesehatan masyarakat, pelatihan ketrampilan (life skills)dan kegiatan sosial lainnya.

Masih banyak desa dan daerah lain yang memerlukan bantuan. Belajar dari keberhasilan P&G bersama dengan Unicef serta partisipasi masyarakat dan pemerintah daerah di Sukabumi, ke depannya P&G berencana untuk memperluas program percontohannya ke daerah lain. Diharapkan melalui kampanye "Satu Tahun Seribut Balita Cerdas", P&G Balita Cerdas akan terus berkembang untuk membantu mencerdaskan anak bangsa dan membuat masa depan mereka lebih cerah!

Baca lebih lanjut...

Pendidikan Anak Usia Dini Dapat Mengurangi Angka Putus Sekolah Bookmark and Share

Siang itu matahari bersinar terik. Anisa yang telah memakai seragam merah putih berangkat ke sekolah di sebuah desa di pedalaman Jawa Barat. Mulutnya terus terkatup, ketika guru memintanya untuk mengulang pelajaran berhitung yang sederhana. Dia bahkan sama sekali tidak membuka mulutnya untuk menjawab beberapa pertanyaan gurunya. Anisa sulit sekali diajak komunikasi. Dia tampak pasif dan penakut. Beda dengan Tomi walau sama-sama kelas satu SD, tapi Tomi lebih berani dan aktif. Anisa dan Tomi hanyalah contoh kecil, anak yang tidak ikut dan ikut PAUD.

Mengapa pendidikan anak usia dini menjadi penting? Dari berbagai penelitian tentang anak menunjukkan bahwa perkembangan intelektual anak terjadi sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun dan sisanya 20 tahun pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua.

Data dari Unicef juga menunjukkan bahwa anak-anak yang mengulang kelas adalah anak-anak yang tidak mengikuti PAUD sebelum masuk SD. Mereka adalah anak yang belum siap dan tidak dipersiapkan oleh orang tuanya memasuki SD. Adanya perbedaan yang besar antara pola pendidikan di sekolah dan di rumah menyebabkan anak yang tidak masuk pendidikan usia dini mengalami kejutan sekolah dan mereka mogok sekolah atau tidak mampu menyesuaikan diri sehingga tidak dapat berkembang secara optimal. Ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak usia dini.

Masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (0-6 th)terutama di desa-desa dan daerah pedalaman, karena kurangnya sosialisasi selain juga karena terbatasnya sarana dan prasarana.

Siapapun dan dimanapun mereka, anak-anak punya hak yang sama untuk mengecap pendidikan demi menyongsong masa depan mereka lebih baik. Karena dipundak merekalah nasib bangsa ini dipertaruhkan.

Baca lebih lanjut...

Aku Ingin Jadi Guru... Bookmark and Share

Cica nama balita itu. Tubuhnya kecil untuk anak usia 4 tahun. Alisnya tebal menutupi matanya yang kecil, tapi menyiratkan semangat. Setiap pagi dia diantar neneknya bersekolah di Taman Posyandu desa Benda, daerah Sukabumi. Orang tuanya bekerja sebagai buruh di perusahaan konveksi yang khusus membuat jaket. Cica baru 3 bulan sekolah di Taman Posyandu ini. "Setiap pagi dia minta cepat-cepat mandi untuk pergi ke sekolah. Kalau hari libur, dia sedih," kata nenek Cica.

Cica adalah salah satu dari puluhan anak balita di pelosok desa yang mempunyai hak yang sama dengan anak-anak balita lainnya di kota untuk mengecap pendidikan agar masa depan mereka jadi lebih baik.

Satu generasi ke depan, negara kita akan diwariskan kepada anak-anak balita yang ada sekarang. Akan menjadi seperti apa negara ini nantinya adalah hasil dari usaha dan pikiran mereka. Kita sebagai generasi sekarang tentunya ingin bangsa dan negara ini akan terus maju dan berkembang pesat dikemudian hari karena upaya kerja keras dan kecerdasan mereka. Oleh karenanya, pendidikan amatlah penting bagi para calon penerus masa depan bangsa kita. Tentu saja pendidikan ini haruslah dimulai sedini mungkin, sehingga perkembangan kecerdasan serta pendidikan mereka dapat dilakukan semaksimal mungkin sesuai dengan potensi mereka.

Berbagai penelitian membuktikan, usia dini (0-6 tahun) merupakan periode atau masa keemasan (the golden age) yang sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Kecerdasan anak mencapai 50 persen pada usia 0 – 4 tahun, sebanyak 80 persen pada usia delapan tahun, dan mencapai 100 persen pada usia 18 tahun. Ini berarti masa emas seorang anak berada pada usia dini, sebelum berusia 7 tahun. Pada masa ini, seorang anak mampu menyerap ide dan pengetahuan jauh lebih kuat daripada orang dewasa.

Sayangnya, belum semua orangtua – dengan berbagai alasan baik ekonomi ataupun sosial - menyadari potensi genetis anak di usia dini. Hingga akhir 2008, Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)baru sekitar 50,03 persen dari 29,8 juta anak*. Dengan demikian, hampir separuh dari jumlah anak usia dini yang ada di negeri ini belum memperoleh layanan pendidikan.

Pemerintah saat ini memang sedang menggalakkan upaya peningkatan layanan PAUD agar lebih merata serta lebih berkualitas. Namun tentu saja upaya ini memerlukan waktu mengingat masih banyaknya daerah yang mampu merealisasikannya. Anak-anak itu perlu tumbuh menjadi sumber daya yang amat berharga dalam membangun bangsa ini di masa depan. Haruskah mereka yang tidak memiliki akses dan kesempatan saat ini menjadi bagian dari generasi yang hilang?

Jadi, maukah anda berpartisipasi untuk menolong mereka. Saatnya bagi kita untuk membangun bangsa ini dengan mengulurkan tangan sekarang untuk hasil yang lebih baik di kemudian hari? Selamatkan generasi penerus bangsa dengan membantu mereka mendapatakan PAUD , demi sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan.

* Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Direktorat Jenderal Pendidikan Formal dan Informal (PNFI), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)

Baca lebih lanjut...

15 Juta Anak Indonesia Belum Mempunyai Kesempatan pendidikan Anak Usia Dini.* Bookmark and Share

Farel (4 th) adalah balita di sebuah desa di pedalaman Sukabumi, dari luar ia kelihatan ceria bermain jungkat-jangkit dengan teman-temannya. Siapa sangka sebelumnya dia anak yang luar biasa egois, susah diatur, pemarah sampai membuat kewalahan orang tuanya. Atas saran tetangganya yang aktif di Posyandu, Farel dibawa ibunya untuk belajar di Taman Posyandu yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Betul saja, setelah 3 bulan dia ikut PAUD, tampak farel mulai berubah. Hal ini diakui ibunya. "Waduh dulunya Farel itu pemarah, nakal, sangat hiperaktif, dan gak mau berbagi dengan temen-temennya. Tapi setelah dia bersosialisasi di sini...kelihatan sekali perubahannya." Kata gurunya.

Lain Farel lain pula Jusuf. Walaupun orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek, tapi Jusuf penuh semangat setiap pagi belajar di Taman Posyandu. Ibunya terutama, ingin anaknya kelak bisa lebih maju. Jusuf memang lebih pintar dibanding kakaknya yang sebelumnya tidak pernah ikut PAUD. "Jusuf...udah bisa menghitung sampai seratus. Udah bisa menggambar. Mewarnai. Dia lebih pinter dari kakaknya," kata ibunya dengan bangga.

Belum banyak orang tua yang tahu bahwa usia enam tahun pertama (0-6 th) adalah periode paling sensitif. Periode ini menjadi fondasi tumbuh dan kembang anak. Karena pada saat ini, anak belajar lebih cepat dibandingkan dengan periode lainnya. Perkembangan di usia ini akan lebih cepat jika mereka mendapat kasih sayang, afeksi, perhatian, dorongan dan stimulasi mental sejak dini.

Mungkin stimulasi pada anak bisa saja dilakukan sendiri oleh orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Tapi banyak ahli psikologi perkembangan anak menilai stimulasi dari orang tua dan keluarga tidaklah cukup untuk mengoptimalkan kecerdasan seorang anak. Karena anak justru amat membutuhkan lingkungan yang dibutuhkan seiring bertambahnya usia seorang balita.

Untuk itu, anak wajib mengikuti pendidikan anak untuk usia dini. Dengan anak mengikuti PAUD, mereka diajarkan bermain kreatif untuk menunjang pertumbuhan aspek kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Karena sebenarnya 40% kemampuan intelektual seseorang dibentuk pada 3 tahun pertama hidupnya dan separuhnya dibentuk sebelum lahir (80% pertumbuhan otak). Dan stimulasi awal pada anak dapat meningkatkan IQ sebesar 10 poin dan mengurangi angka putus sekolah.

Sebegitu pentingnya pendidikan anak untuk usia dini ini namun sayangnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap pemberian layanan bagi anak usai dini (0-6 th) masih sangat rendah. Hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan anak usia dini itu.

Sosialisasi pendidikan anak usia dini diakui belum menyentuh secara merata pada lapisan masyarakat terbawah di tingkat kecamatan dan kabupaten/kota.

*) data UNICEF

Baca lebih lanjut...

Secangkir Kopi di Kafe Untuk 3 Anak Balita Bookmark and Share

Mau ngopi di mana kita hari ini? Kafe dekat kantor? Atau di mall tempat kita biasa hang out sama temen-temen? Kalau di inget-inget, kira-kira berapa biaya yang biasa kita habiskan untuk segelas kopi tiap kali kita ngumpul atau sekedar ngobrol bareng temen? Tau gak sih, segelas kopi yang kita beli dapat membiayai 3 anak balita untuk menjalani pendidikan anak usia dini (PAUD).

Berdasarkan data dari Unicef masih sekitar 15 juta anak usia dini di Indonesia belum tersentuh pendidikan anak usia dini. Padahal pendidikan anak usia dini itu sebenarnya penting banget. Dari berbagai penelitian membuktikan, usia dini (0-6 th) merupakan periode atau masa keemasan (the golden age) yang sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini seorang anak mampu menyerap ide dan pengetahuan jauh lebih kuat daripada orang dewasa.

Untuk itu kesadaran pentingnya PAUD harus terus disosialisasikan sampai ke pelosok desa. Salah satu contoh sosialisasi PAUD sudah merebak di beberapa desa di pedalaman Sukabumi. Di desa Benda, kecamatan Cicurug Sukabumi kita bisa melihat fenomena yang mengharukan. Anak-anak balita setiap pagi menapaki jalan panjang curam dan berliku untuk sampai di sekolah, sebuah Taman Posyandu. Mereka tampak bersemangat walau ke sekolah dengan hanya beralaskan sandal. Orang tua mereka rata-rata bekerja sebagai buruh pabrik, petani, tukang batu, pedagang es, tukang ojek. Mereka di sana belajar gratis tanpa dipungut bayaran. Bukan hanya bermain sambil belajar, tapi mereka juga diajarkan cara hidup sehat.

Serli, Bunga, Sri Mulyani, Hasan, Delia, Tomi dan puluhan anak lainnya di desa Benda sama dengan anak lainnya di kota. Mereka mempunyai hak yang sama untuk mengenyam pendidikan demi menyongsong hidup dan masa depan yang lebih cerah!

Mari mulai hari ini kita renungkan, setiap kali kita minum segelas kopi di kafe, bisa berarti banyak untuk balita Indonesia.

Selamat ulang tahun anak-anak Indonesia! Jangan lupa memeluk dan mencium anak, keponakan kita hari ini. Mari satukan cinta untuk balita Indonesia.

Baca lebih lanjut...